Gereja Ajak Jemaat Ubah Sampah Jadi Berkah

GPIB, Makasar – Peran gereja untuk membangun iman tak hanya dilakukan dalam bentuk kotbah tetapi bisa juga dilakukan dengan mengedukasi warganya soal pengelolaan sampah.

Untuk itu komisi Germasa GPIB Mupel Sulselbara berkolaborasi dengan PGIW Sulselra dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menggelar edukasi pemilahan sampah dan tata kelola Bank Sampah pada Sabtu (22/8) bertempat di GPIB Bukit Zaitun Makassar.

Respons warga jemaat yang hadir cukup antusias, sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan termasuk pendeta dan presbiter hadir mengikuti kegiatan itu.

Dalam sambutan dan doa oleh Pdt. Salmon Bawole sebagai Ketua 2 Mupel Sulselbara / Ketua 1 PGIW Sulselra mengatakan bahwa kolaborasi lintas lembaga ini hadir sebagai jawaban konkret atas krisis kapasitas TPA Tamangapa yang makin mengkhawatirkan.

“Kita harus mengubah atau mengganti pola pikir kita bahwa sampah bukan lagi jadi masalah, tapi menjadi peluang ekonomi,” kata Pdt.Bawole saat mebuka acara itu.

Dari rilis yang duterima, sejumlah narasuber memberikan penjelasan, antara lain tim ahli dari DLH Kota Makassar yakni Faisal (Penyuluh Bank Sampah DLH Makassar) yang memberikan penjelasan bahwa pentingnya perubahan mindset dari rumah tangga.

“Pengelolaan sampah dari rumah itu kunci. Begitu kita paham jenis sampah dan mengelolanya lewat Bank Sampah, bernilai ekonomis bagi keluarga dan gereja,” terang Faisal.

Sementara tim ahli lainnya, yaitu Juardi (Kepala TU Bank Sampah DLH Makassar) memberikan pemahaman dengan arah kebijakan terbaru untuk menjadi ujung tombak.

“Setelah sanksi administratif dicabut oleh pemerintah pusat, pendekatan partisipatif dan edukasi publik kini jadi tombak utama dalam menjaga kebersihan kota,” ujarnya.

Soal TPA Tamangapa, dijelaskan narasumber lain, yakni Dr. Herdi (Staf Sub Koordinasi & Edukasi DLH Makassar) bahwa data yang krusial menjelaskan bahwa tpa itu sudah overload.

“Dari strategi edukasi pemilahan sampah ini mulai menunjukkan hasil positif. Volume sampah yang masuk ke tpa saat ini berhasil kita pangkas hingga 300 ton per hari,” jelasnya. Ia menegaskan pola lama kumpul–angkut–buang harus diganti menjadi kumpul–pilah–manfaatkan.

Saat sesi diskusi bersama peserta muncul pertanyaan-pertanyaan sehingga jalannya diskusi menjadi dinamis. Antusiasme peserta tak berhenti pada tanya jawab; sejumlah perwakilan jemaat langsung bersepakat dengan tim DLH untuk menindaklanjuti program ini melalui sosialisasi susulan dan pembentukan Bank Sampah di gereja masing-masing.

Melalui kegiatan ini, gereja menegaskan komitmennya bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian integral dari iman yang hidup. Yakni menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar rutinitas, melainkan habituasi gaya hidup yang mencerminkan iman dalam perbuatan.(lip)

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini