BEKASI — Bulan Gereja, Masyarakat dan Agama-agama serta Lingkungan Hidup (GERMASA) GPIB Tahun 2026 resmi dibuka melalui ibadah pembukaan yang berlangsung di GPIB Jemaat Jatipon, Bekasi, Sabtu, 1 Agustus 2026. Ibadah dimulai pukul 17.00 WIB dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube GPIB Indonesia, sehingga dapat diikuti oleh warga jemaat GPIB di berbagai wilayah.

Ibadah pembukaan ini menjadi awal rangkaian Bulan GERMASA yang berlangsung sepanjang Agustus 2026. Melalui rangkaian tersebut, GPIB mengajak seluruh jemaat untuk memberi perhatian pada kehidupan bergereja, relasi dengan masyarakat dan umat beragama lain, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Ibadah pembukaan tersebut menjadi semakin semarak dengan keterlibatan berbagai unsur pelayanan. Sesuai rundown, selain pelayanan firman dan liturgi, rangkaian ibadah turut menghadirkan Serafim Female Choir melalui lagu “Into Your Hands”, Vocal Grup PKB melalui “Pokok Anggur”, serta paduan suara Departemen GERMASA dengan lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan”.


Keterlibatan enam Pelkat, unsur pemuda dan jemaat, majelis, tim multimedia, penerima tamu, musik, kantoria, Tim STFT Jakarta serta berbagai pelayan lainnya menunjukkan semangat kebersamaan dalam membuka rangkaian Bulan GERMASA.

Pelayan Firman, Pdt. Semuel Karinda, Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB, dalam khotbah berdasarkan Yesaya 58:1-10, menekankan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada aktivitas keagamaan, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan.

Ia mengingatkan bahwa umat Israel pada zaman Nabi Yesaya menjalankan berbagai praktik ibadah, namun kehidupan mereka masih diwarnai penindasan, konflik, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
“… mereka menjalankan ibadah tapi tanpa perubahan hidup yang nyata. Refleksi hidup yang harusnya mereka kerjakan sesuai dengan apa yang mereka imani kepada Tuhan berbanding terbalik dengan perubahan gaya hidup mereka.”

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan panggilan GPIB dalam menjalankan pelayanan GERMASA. Gereja dipanggil untuk tidak tinggal diam ketika berhadapan dengan ketidakadilan, penderitaan, serta persoalan kehidupan di lingkungan sekitarnya.
“Banyak ketidakadilan terjadi di mana-mana dan gereja harus bersuara untuk itu. Kita tidak usah berpikir tentang ketidakadilan yang terjadi secara global, tapi paling tidak ketidakadilan yang terjadi di sekitar lingkungan gereja kita. Apa yang harus kita buat untuk itu?”
Pdt. Semuel juga menegaskan bahwa perubahan yang diharapkan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Gereja dan warganya dapat memulainya melalui tindakan-tindakan kecil yang nyata dan berdampak positif bagi kehidupan bersama.
“Perubahan besar itu akan terjadi dari perubahan kecil yang kita buat di gereja Tuhan ini. Jangan menuntut kita akan berubah secara besar, tapi yang Tuhan tuntut perubahan kecilmu.”
GERMASA Harus Menjadi Aksi Nyata

Sebagai tuan dan puan rumah, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jatipon Bekasi, Pdt. Sandra Rachel Sormin-Sihasale, S.Th., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada GPIB Jatipon untuk menjadi tempat berlangsungnya ibadah pembukaan.

Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Majelis Sinode, Departemen GERMASA, para pelayan, Pelkat, tim multimedia, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.

Lebih jauh, Pdt. Sandra menegaskan harapan agar semangat GERMASA benar-benar diwujudkan dalam kehidupan bergereja dan tidak berhenti sebagai slogan.
“Bapak-Ibu harapan kami sebagai jemaat Jatipon kiranya GPIB terus menjadi gereja yang memulihkan dan merawat lingkungan dan ini tidak sekedar menjadi slogan, tetapi terus kita kerjakan. Sehingga kehadiran kita sebagai gereja memiliki dampak yang selalu menyenangkan dan memuliakan Tuhan.”
Rangkaian Bulan GERMASA 2026
Sementara itu, Ketua Departemen GERMASA, Dkn. Denny Tewu, menjelaskan bahwa GERMASA menjadi ruang bagi GPIB untuk membangun jembatan kerja sama dalam empat bidang, yakni oikoumene, lintas iman, sosial kemasyarakatan, dan lingkungan hidup.

Rangkaian Bulan GERMASA 2026 akan berlanjut pada 9 Agustus dengan tema “Allah Melindungi Gereja untuk Menjadi Penata Layan Ciptaan di Tengah Ancaman Krisis Lingkungan”. Pada 16 Agustus, tema yang diangkat adalah “Laskar Kristus sebagai Anak Bangsa yang Cinta Tanah Air”, dilanjutkan dengan rangkaian kemerdekaan RI sebagai anugerah pada 17 Agustus.

Selanjutnya, pada 23 Agustus akan dilaksanakan rangkaian bertema “Gereja Bersatu Menjadi Terang bagi Sesama”, sedangkan pada 30 Agustus mengangkat tema lintas iman “Mengelola Berkat untuk Menjadi Berkat bagi Segenap Umat Manusia”. Rangkaian Bulan GERMASA GPIB 2026 akan ditutup melalui ibadah pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB di GPIB Gideon, Jakarta Selatan.
Mewakili Fungsionaris Majelis Sinode XXII GPIB, Pnt. Max Dj. Hayer menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan pembukaan Bulan GERMASA. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diharapkan tidak menjadi rutinitas tahunan semata, tetapi meninggalkan dampak positif bagi gereja dan masyarakat.

“Tentunya kegiatan bulan GERMASA ini adalah diharapkan bukan sekedar aksi rutinitas tahunan yang diadakan begitu saja kemudian lewat begitu saja tanpa meninggalkan dampak positif bagi kita sebagai gereja terutama bagi lingkungan masyarakat dimana kita berada.”
Momentum pembukaan Bulan GERMASA ditandai secara simbolis dengan penabuhan tifa secara bersama-sama oleh Pdt. Semuel Karinda, Pdt. Sandra Rachel Sormin-Sihasale, Pnt. Max Dj. Hayer, dan Dkn. Denny Tewu. Penabuhan tifa tersebut menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian Bulan GERMASA GPIB yang akan berlangsung sepanjang Agustus 2026.

Pembukaan Bulan GERMASA GPIB 2026 di GPIB Jatipon menjadi momentum untuk kembali menegaskan kehadiran gereja di tengah kehidupan. Melalui seluruh rangkaian yang berlangsung sepanjang Agustus, GPIB diharapkan terus menghadirkan kepedulian, keadilan, pemulihan, serta aksi nyata dalam merawat kehidupan bersama dan seluruh ciptaan.at


