GPIB, Jakarta – Pemberdayaan bagi masyarakat dipahami sebagai misi yang dilakukan gereja seperti tercantum dalam PKUPPG III, yaitu perubahan yang berkelanjutan. Hal itu disampaikan oleh Ketua I Majelis Sinode XXII Pdt.Henry Tamaela saat membuka Semiloka Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Mupel, pada Sabtu (20/6) pagi lewat sarana zoom yang diselenggarakan Departemen Pelkes UP2M.
Kata Pdt.Henry, pemberdayaan masyarakat tak hanya kegiatan bakti sosial atau pemberitan bantuan-bantuan tapi lebih pada pengembangan potensi dan kapasitas.
“Jemaat yang adalah bagian dari masyarakat itu baik di pos pelkes dan bajem-bajem dan jemaat dewasa bisa diharapkan mandiri, artinya bisa berpartisiapsi secara aktif baik secara ekonomi dalam konteks budaya lokal. Semoga dalam kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk menuangkan gagasan pemberdayaan masyarakat.”

Lebih dalam lagi menurut Pdt.Henry, gagasan pemberdayaan masyarakat menurut GPIB, bukan sekadar entitas terstruktur, yaitu pos pelkes harus ada induknya tapi pos pelkes ini sebagai komunitas yang disebut gereja dan perannya sebagai mitra bagi masyarakat yang ada di lokal.
“Kami berharap, BP Mupel-BP Mupel punya semangat memberdayakan, karena BP Mupel yang mengerti konteksnya sehingga kita berharap BP Mupel bisa menjadi pendamping bagi jemaat, pos pelkes yang sedang berproses menjadi komunitas yang berdaya,” tambah Pdt.Henry.
Selain Ketua I MS GPIB juga hadir Sekretaris I MS XXII Pdt.Emmawati Baule yang menyampikan ungkapan terima kasih atas informasi dan inlu yang disampaikan narasumber.
“Terima kasih untuk pemaparannya dan penjelasan ibu Victoria br.Simanungkalit atas berbagai hal yang disampaikan. Dan kami sepakat untuk mengembangkan lebih dulu mulai dari Mupel Aceh dan kemudian dapat dilakukan oleh mupel-mupel lainnya. Dan terima kasih Mupel-mupel yang hadir dalam rangka kegiatan bulan Pelkes, Tuhan berkati,” kata Pdt.Emmawati.
Dalam paparan oleh narasumber Ibu Victoria br.Simanungkalit yang merupakan Deputi di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Dosen IPB ini menyampaikan bahwa gereja perlu hadir dalam pemberdayaan UMKM disamping amanat Tuhan seperti mengutip dari Kejadian 2: 15 agar kita bisa mengelola bumi. “Pengelolaan itu bisa juga dikatakan UMKM oleh jemaat atau usaha-usaha lainnya,” kata ibu Victoria.
Menurut narasumber yang juga dosen IPB, GPIB perlu membangun ekosistem mandiri dan berkelanjutan dengan membuka mindset untuk berpikir bagaimana memberdayakan umkm di gereja kita masing-masing.
“Karena kami melihat jemaatnya atau panitia yang pontang panting tapi pemimpin gereja tidak mengetahuinya. Kalau tidak didukung oleh pemimpin gereja hal ini sangat sulit. Maka yang harus dibentuk adalah tidak hanya pelatihan-pelatihan tapi juga inkubuasi, siapa peserta yang pontensial dan fokus pada target yang siap untuk berkembang,” kata ibu Victoria.

Menurutnya lagi, langkah berikut yang harus diperhatikan adalah soal pembiayaan, lalu berjejaring sehingga menjadi kekuatan ekosistem yang dibangun gereja. “Soal kemitraan dengan pemerintah daerah dan pusat harus dibangun dan disinrrgikan hingga perlu adanya investor dan juga perbankan. Ini bisa dilakukan untuk pemberdayaan UMKM di jemaat-jemaat,” ujarnya.
Soal UMKM, ibu Victoria juga menyampaikan bahwa perlu disama pemahaman siapa UMKM Indonesia itu? UMKM adalah terdiri dari usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, dan ini harus dipahami dan dibedakan. “Karena seringkali semua usaha ini disamakan ratakan, sehingga salah dalam pelakasaannnya. jadi kita perlu paham sehingga usaka mikro kita bisa naik kelas jadi kecil dan naik lagi menjadi menengah,”tegasnya.
Lebih lanjut menurut ibu Victoria, gereja atau jemaat perlu memikirkan usaha apa dan pasar membutuhkan apa, sehingag tidak salah kaprah.
“Jangan kita memikirkan lebih dulu sebelum usaha nanti rugi, tidak laku, dan lainnya. Tapi harus berani memulai pada usaha yang kecil, seperti contoh UMKM di China yang berani memulai hal kecil meski 10 kali gagal. Lantas bagaimana memulainya? Diawali fokus pada kelompok kecil untuk mencari kebutuhan pasar di wilayah masing-masing. Cukupkah jemaat gereja atau masyarakat di sekitar atau kita masuk di pasar lokal atau berjejaring dengan gereja-gereja tempat lain. Contoh jualan beras, fokus dipasarkan pada jemaat lebih dulu atau pasar tertentu. Tidak usah ingin yang lebih luas. Pemikiran ini harus menjadi poin utama,” terang ibu Victoria.
Hal kedua, menurut ibu Victoria, jika sudah tahu apa produknya dan wilayahnya lalu tentukan jenis produknya seperti apa, misalnya ikan, ikan jenis apa, olahannya seperti apa? jadi fokus serta kita harus yakin dengan produk yang dihasilkan.
“Inilah yang harus disampaikan oleh mereka yang akan melakukan usaha. Pemimpin gereja sebagai pendampng tidak hanya memberikan pelatihan lalu tinggalkan tapi juga harus mengetahui kondisi baik kelebihan dan kelemahan kita, contoh analis pasar, lalu sumber daya cukup atau tidak? atau kontinuitas produk kita. Dan apakah tenaga kita siap atau tidak untuk usaha yang dilakukan itu, juga modal kerja dan melibatkan banyak jeamaat. Itu juga yang harus diperhatikan sehingga terbangun ekosistemnya,” kata ibu Victoria.

Soal jejaring, ibu Victoria juga menegaskan bahwa peran pendamping sangat diperlukan untuk memperkuatnya baik di tingkat lokal dan nasional, misalkan UMKM yang berbasis ikan khususnya di wilayah masyarkat pesisir laut.
Di bagian akhir paparannya, ibu Victoria menyampaikan bahwa harus ditetapkan target yang menjadi kekuatan UMKM di tingkat jemaat-jemaat.
Peserta zoom yang berjumlah kurang lebih 45 berasal dari semua Mupel, yakni SUMUT – ACEH, SARIBU, KEPRI, BABEL, JAMBI, SUMSEL, LAMPUNG, BANTEN, JAKARTA BARAT, JAKARTA PUSAT, JAKARTA UTARA, JAKARTA TIMUR, BEKASI, JABAR 1, JABAR 2, JATENG – DIY, JATIM, BALI – NTB, KALSELTENG, KALBAR, KALTIM 1, KALTIM 2, KALTARA – BERKAT, dan SULSELBARA.
Peserta kemudian dibagi dalam empat kelompok, yakni pertanian tamanan pangan dan hortikultura, kelompok kedua perkebunan, kelompok ketiga perikanan dan kelompok empat peternakan untuk berdiskusi potensi masing-masing sehingga hasilnya dapat ditindaklanjuti.(lip)
