Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Minggu, 25…
  2. Berbagai Kasih, Menghadirkan Harapan
  3. Rayakan Dies Natalis ke-28, STIKES…
  4. Wakapolda Sumsel Kunjungi…
  5. GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal…
  6. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  7. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  8. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  9. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  10. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  11. Morning Call GPIB | Monday,…
  12. Lomba FASHION SHOW | BAZAR…
Sinode

Pendeta itu Profesi atau bukan?

arcus Ed. 24 – Pendeta itu Profesi atau bukan? Pertanyaan mencuat dalam diskusi kelompok di Konferdal Germasa GPIB […]

Sejumlah pendeta GPIB dalam suatu acara Rakerdal Germasa

arcus Ed. 24 – Pendeta itu Profesi atau bukan? Pertanyaan mencuat dalam diskusi kelompok di Konferdal Germasa GPIB di Kinasih. Penekanan pertanyaan ini berulang kali disampaikan dalam forum sinodal yang dilaksanakan pada 21 – 23 Januari 2019 itu.

“Ini perlu penjelasan, pendeta
itu Profesi atau bukan. Kalau profesi perlunya disiapkan semacam Kode Etik
Pendeta,” ungkap dr. Raymond Runtu, peserta Konferdal dari Jawa Timur ini.

Menurutnya, kalau Dokter sudah
jelas memiliki Kode Etik Kedokteran. Makanya, dokter itu disebut Profesional
demikian juga Profesi lainnya seperti Pengacara semua memiliki Kode Etik
sendiri.

Catatan arcus, menurut Kamus Besar Bahasa
indonesia (KBBI), kata profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian keterampilan, kejuruan, dsb. Dari arti katanya, maka
pendeta adalah profesi, karena pengangatan seorang menjadi pendeta oleh sebuah Sinode
Gereja dilandasi atas dasar keahliannya dalam mengajar hukum-hukum Allah.

Pendeta itu seharusnya masuk
dalam kategori profesional karena bidang kerjanya lebih kepada counseling atau
pelayanan dimana ia berada. Bahkan kalau dilihat
dari ritme kerja pendeta dibanding psikolog beban pendeta lebih berat dari
seorang psikolog. Seorang pendeta GPIB di jemaat , misalnya, ia
bertanggungjawab untuk melayani semua anggota keluarga di jemaatnya. Sedangkan
psikolog tidak seberat yang dilakukan oleh seorang pendeta. Psikolog bisa
dikatakan temporer dalam melakukan aktifitasnya.

Seorang pendeta GPIB mengatakan, penentuan pendeta itu profesi atau bukan
sudah lama bergaung. Hanya saja sampai saat ini tidak pernah ada kejelasan.

“Ia, setahu saya sudah lama isu ini 
bergulir. Sayangnya, tidak pernah ada kelanjutannya,” tutur pendeta
perempuan ini sembari menyebutkan bahwa di GKI hal tersebut sudah diatur
sedemikian rupa. Artinya, pendeta tidak lagi memikirkan hal-hal lain selain pelayanan.

Mencari kebenaran tersebut, sebuah blog Nuryanto Gracia mengatakan, jika mau ditilik
lebih dalam, sebenarnya Pendeta juga merupakan profesi. Mengapa? Ada tugas
layaknya profesi tertentu yang harus dilakukan secara profesional.

Ada etika jabatan, misalnya, masalah anggota jemaat tidak boleh diceritakan
keluar. Ada penghasilan, setiap Sinode Gereja memiliki perhitungan sendiri
untuk penghasilan pendetanya, ada yang didapat dari persembahan dan persepuluhan,
ada yang didapat dengan perhitungan gaji seperti PNS, dan ada yang didapat dari
perhitungan lainnya yang tidak mengikuti gaji PNS.  Pendeta itu lebih kepada profesi, ada ilmu
yang harus dikuasai. Untuk fakultas teologi harus kuliah 4-5 tahun.

Argumen yang menolak pendeta sebagai profesi karena bagi mereka pendeta
adalah panggilan. Tapi pertanyaannya, apakah profesi yang lain bukan panggilan?
Hal ini akhirnya bisa menimbulkan eksklusifikasi jabatan. Seakan pendeta adalah
jabatan yang turun dari langit. Padahal sesungguhnya semua profesi adalah panggilan.
Setiap kita mendapatkan panggilan hidup masing-masing. Ada yang dipanggil jadi
pendeta, ada yang dipanggil jadi tukang sulap. Setiap panggilan itu harus
dijalani dengan penuh kesungguhan.

Pendeta itu bekerja 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari secara
prinsipil. Apa kerjanya? Banyak sekali. Semakin besar gerejanya, semakin banyak
tugasnya. Tugasnya cuma khotbah? Itu hanya sebagian sangat kecil dari tugas
pendeta. Di luar itu ada banyak sekali tugas yang bahkan membuat mereka sulit
untuk sekadar jalan-jalan menikmati hidup. Bahkan ada pendeta yang jadwal
tugasnya sudah ditentukan 1-2 tahun sebelumnya.

Pdt Markus F. Manuhutu pernah mengatakan jadikan pendeta sebagai panggilan
dan jangan jadikan pendeta sebagai profesi atau pekerjaanmu. Pendeta adalah panggilan
berarti pendeta seumur hidup.

“Pendeta sebagai profesi berarti menghitung jam kerja. Layaknya seorang
direktur perusahaan yang bekerja mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Pekerjaannya
dihitung dalam satuan waktu. Di luar jam itu ia bukan direktur lagi,” tuturnya.
 

fsp

Bagikan