Berita Radio – Minggu, 25 Oktober 2026
RADIO GPIB REMA SEJATI📆 : Minggu, 25 Oktober 2026⏰ : 21.00 & 23.00 WIB👤 : Dkn.Marthen Thei⛪ : GPIB Pelangi Kasih, Lawang…
Baca Berita
Berita Radio – Minggu, 25…
Berbagai Kasih, Menghadirkan Harapan
Rayakan Dies Natalis ke-28, STIKES…
Wakapolda Sumsel Kunjungi…
GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal…
Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
Lansia Harus Tetap Sehat dan…
Morning Call GPIB | Monday,…
Lomba FASHION SHOW | BAZAR…
RADIO GPIB REMA SEJATI📆 : Minggu, 25 Oktober 2026⏰ : 21.00 & 23.00 WIB👤 : Dkn.Marthen Thei⛪ : GPIB Pelangi Kasih, Lawang…
Baca Berita
Mari ambil bagian dalam pelayanan kasih GPIB. Dukungan Anda menjadi wujud kepedulian dan ungkapan syukur untuk menghadirkan berkat bagi sesama. Salurkan dukungan…
Baca Berita
GPIB, Surabaya – STIKES Griya Husada Surabaya merayakan Dies Natalis ke-28 pada Rabu, (14/10) guna mensyukuri perjalanan institusi pendidikan tinggi serta memperkuat…
Baca Berita
GPIB, Palembang – Memenuhi komitmen untuk semakin mendekatkan Polri dengan masyarakat, Kepolisian Daerah Sumatera Selatan berkunjung ke GPIB Jemaat Immanuel Palembang pada…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap terhadap bencana kebakaran hutan dan…
Baca Berita
Prodi S1 Administrasi Rumah Sakit STIKES Griya Husada Surabaya Raih Akreditasi UNGGUL dari LAM-PTKes GPIB, Surabaya – Di tengah berbagai dinamika dan…
Baca Berita
Rumah Oksigen GPIB Ebenhaezer Palangka Raya resmi dibuka untuk masyarakat umum pada Rabu, 30 September 2026. Peresmian dihadiri oleh perwakilan PGIW Kalimantan…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Hari ini, Kamis, 1 Oktober diperingati juga sebagai Hari Lanjut Usia Internasional atau International Day of Older Persons. Ini…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Diskusi lewat webinar soal sosialisasi Dokumen Keesaan Gereja (DKG) yang diselenggarakan oleh Mupel Banten bersama Departemen Germasa MS GPIB…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Memeriahkan Hari Ulang Tahun Pelayanan Kategorial Lanjut Usia (HUT PKLU) ke 16 Dewan PKLU mengadakan webinar dengan tema Menua,…
Baca BeritaVideo terbaru dari kanal YouTube GPIB Indonesia.
Buka di YouTubeVideo terbaru dari kanal YouTube GPIB TV Indonesia.
Buka di YouTubearcus Ed. 24 – Pendeta itu Profesi atau bukan? Pertanyaan mencuat dalam diskusi kelompok di Konferdal Germasa GPIB […]

arcus Ed. 24 – Pendeta itu Profesi atau bukan? Pertanyaan mencuat dalam diskusi kelompok di Konferdal Germasa GPIB di Kinasih. Penekanan pertanyaan ini berulang kali disampaikan dalam forum sinodal yang dilaksanakan pada 21 – 23 Januari 2019 itu.
“Ini perlu penjelasan, pendeta
itu Profesi atau bukan. Kalau profesi perlunya disiapkan semacam Kode Etik
Pendeta,” ungkap dr. Raymond Runtu, peserta Konferdal dari Jawa Timur ini.
Menurutnya, kalau Dokter sudah
jelas memiliki Kode Etik Kedokteran. Makanya, dokter itu disebut Profesional
demikian juga Profesi lainnya seperti Pengacara semua memiliki Kode Etik
sendiri.
Catatan arcus, menurut Kamus Besar Bahasa
indonesia (KBBI), kata profesi berarti bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian keterampilan, kejuruan, dsb. Dari arti katanya, maka
pendeta adalah profesi, karena pengangatan seorang menjadi pendeta oleh sebuah Sinode
Gereja dilandasi atas dasar keahliannya dalam mengajar hukum-hukum Allah.
Pendeta itu seharusnya masuk
dalam kategori profesional karena bidang kerjanya lebih kepada counseling atau
pelayanan dimana ia berada. Bahkan kalau dilihat
dari ritme kerja pendeta dibanding psikolog beban pendeta lebih berat dari
seorang psikolog. Seorang pendeta GPIB di jemaat , misalnya, ia
bertanggungjawab untuk melayani semua anggota keluarga di jemaatnya. Sedangkan
psikolog tidak seberat yang dilakukan oleh seorang pendeta. Psikolog bisa
dikatakan temporer dalam melakukan aktifitasnya.
Seorang pendeta GPIB mengatakan, penentuan pendeta itu profesi atau bukan
sudah lama bergaung. Hanya saja sampai saat ini tidak pernah ada kejelasan.
“Ia, setahu saya sudah lama isu ini
bergulir. Sayangnya, tidak pernah ada kelanjutannya,” tutur pendeta
perempuan ini sembari menyebutkan bahwa di GKI hal tersebut sudah diatur
sedemikian rupa. Artinya, pendeta tidak lagi memikirkan hal-hal lain selain pelayanan.
Mencari kebenaran tersebut, sebuah blog Nuryanto Gracia mengatakan, jika mau ditilik
lebih dalam, sebenarnya Pendeta juga merupakan profesi. Mengapa? Ada tugas
layaknya profesi tertentu yang harus dilakukan secara profesional.
Ada etika jabatan, misalnya, masalah anggota jemaat tidak boleh diceritakan
keluar. Ada penghasilan, setiap Sinode Gereja memiliki perhitungan sendiri
untuk penghasilan pendetanya, ada yang didapat dari persembahan dan persepuluhan,
ada yang didapat dengan perhitungan gaji seperti PNS, dan ada yang didapat dari
perhitungan lainnya yang tidak mengikuti gaji PNS. Pendeta itu lebih kepada profesi, ada ilmu
yang harus dikuasai. Untuk fakultas teologi harus kuliah 4-5 tahun.
Argumen yang menolak pendeta sebagai profesi karena bagi mereka pendeta
adalah panggilan. Tapi pertanyaannya, apakah profesi yang lain bukan panggilan?
Hal ini akhirnya bisa menimbulkan eksklusifikasi jabatan. Seakan pendeta adalah
jabatan yang turun dari langit. Padahal sesungguhnya semua profesi adalah panggilan.
Setiap kita mendapatkan panggilan hidup masing-masing. Ada yang dipanggil jadi
pendeta, ada yang dipanggil jadi tukang sulap. Setiap panggilan itu harus
dijalani dengan penuh kesungguhan.
Pendeta itu bekerja 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari secara
prinsipil. Apa kerjanya? Banyak sekali. Semakin besar gerejanya, semakin banyak
tugasnya. Tugasnya cuma khotbah? Itu hanya sebagian sangat kecil dari tugas
pendeta. Di luar itu ada banyak sekali tugas yang bahkan membuat mereka sulit
untuk sekadar jalan-jalan menikmati hidup. Bahkan ada pendeta yang jadwal
tugasnya sudah ditentukan 1-2 tahun sebelumnya.
Pdt Markus F. Manuhutu pernah mengatakan jadikan pendeta sebagai panggilan
dan jangan jadikan pendeta sebagai profesi atau pekerjaanmu. Pendeta adalah panggilan
berarti pendeta seumur hidup.
“Pendeta sebagai profesi berarti menghitung jam kerja. Layaknya seorang
direktur perusahaan yang bekerja mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Pekerjaannya
dihitung dalam satuan waktu. Di luar jam itu ia bukan direktur lagi,” tuturnya.
fsp
Chat Pendengar 0
Halaman Radio