Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Jumat, 9…
  2. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  3. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  4. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  5. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  6. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  7. Tim MS XXII GPIB Periksa…
  8. Semarak HUT ke-78 GPIB dan…
  9. 75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi…
  10. Menembus Batas Pelayanan,…
  11. Night Call GPIB | Jumat…
  12. Ibadah Syukur Agung HUT ke…
Sinode

Konferdal GPIB di Kinasih Minta Gereja Tidak Alergi Politik

arcus Ed. 24 – Konferdal Germasa GPIB di Kinasih, Tapos Jawa Barat cukup prihatin dengan kondisi berbangsa saat […]

Peserta Konferdal Germasa GPIB di Kinasih, Tapos Jawa Barat bersama narasumber Jimly Asshiddiqie sepakat hasil-hasil konferdal tidak sampai di Kinasih saja. Harapannya, semua yang sudah didapat dalam Konfedal bisa sampai juga ke Pemerintah

arcus Ed. 24 – Konferdal Germasa GPIB di Kinasih, Tapos Jawa Barat cukup prihatin dengan kondisi berbangsa saat ini.  Konferdal yang diselenggarakan pada 21-23 Januari 2019 ini cukup peka melihat persoalan di negeri ini. Tidak hanya sekadar persoalan internal gereja, tapi juga persoalan berbangsa.

Dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara, munculnya kelompok-kelompok radikal dan intoleransi yang ingin
mengubah haluan bangsa yang berdasarkan Pancasila menjadi tantangan
serius bagi semua anak bangsa, termasuk gereja.

Konferdal menghadirkan beberapa
narasumber dengan Pembicara Kunci, Jimly Assiddiqie.  Dalam bahasan kelompok, Pdt Zeth Yunus
Laritmas menyebutkan, bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi
perekat dalam banyak perbedaan, telah kehilangan roh. Akibatnya
terbukalah rongga-rongga kesenjangan yang menimbulkan konflik. Pemilihan Umum
2019 yang didalamnya dilakukan secara serentak pemilihan Pilpres
dan Pileg menjadi area “perang” yang terbuka antar partai politik sampai ke akar
rumput di dalam masyarakat.

Politik uang dan politik
identitas, dipakai sebagai “senjata” yang sengaja ditembakkan untuk menyerang
lawan politik. Konferdal pun mengusulkan, agar warga negara berpartisipasi
dalam menentukan pilihan yang tepat dan tidak memilih golput.

Nilai-nilai nasionalisme yang
terus tergerus dan memudar akibat adanya upaya-upaya mengedepankan
kepentingan-kepentingan kelompok dan golongan, harus dikikis dengan membangun
sikap toleransi dan mau menerima keperbedaan yang ada.

Menghadapi Pemilihan Umum 17
April 2019, diharapkan Majelis Sinode GPIB sebagai pimpinan lembaga, dapat
menghimbau seluruh warga jemaat GPIB untuk menggunakan Hak Pilih untuk tidak golput.

Pada tatanan gerejawi, Germasa
di Kinasih yang dihadiri 150 lebih peserta berharap, pendekatan-pendekatan
kekuasaan yang selama ini digunakan untuk mencapai tujuan, harus diganti dengan
pendekatan-pendekatan pastoral, kasih, yang merupakan ciri dan
karakter Kristus.

Pendekatan pastoral sangat
diharapkan bisa mengatasi munculnya berbagai masalah yang meresahkan dalam gereja
seperti  konflik antar presbiter,
ketegangan antar presbiter dan warga jemaat, gesekan-gesekan antar gereja
dengan masyarakat dan renggangnya relasi gereja antar gereja dan gereja dengan
pemerintah.

Belum lagi persoalan aset
gereja yang ruwet dan sistem pengelolaannya yang perlu dikoreksi, menjadi hal
yang menghiasi persoalan-persoalan internal dalam gereja.

“Tidak menggunakan pendekatan
kekuasaan, namun lebih mengedepankan pendekatan pastoral. Membangun
komunikasi dua arah yang baik,” ungkap Pdt Zeth Yunus Laritmas, KMJ Bukit Benuas,
Kaltim.  Ia juga meminta adanya perubahan
orientasi
kepemimpinan, bukan untuk dilayani, melainkan melayani dengan
tulus, professional dan berintegritas.

Kepada pemerintah, Konferdal
GPIB ini juga meminta Pemilihan Umum 17 April 2019 dikawal dan dilaksanakan
dengan jujur, adil dan transparan. Meninjau kembali Perda-perda yang
diskriminatif. Berani bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok
intoleran dan radikal yang terus merongrong kesatuan dan keutuhan bangsa.

“Roh Perekat Pancasila dan  UUD 1945 harus dikembalikan menjadi fondasi
yang kuat dan kokoh dalam membangun nasionalisme di tengah tantangan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandas Laritmas.  

Menghadapi Pilpres 2019, Pdt
Stephen Sihombing yang membahas gereja dan politik sepakat agar GPIB memberi
dukungan kepada Caleg dari GPIB, dengan memberi dukungan itu dalam bentuk doa
dan penggembalaan, menerbitkan surat pastoral, mengadakan pendidikan politik
bagi warga jemaat, memberi arahan informasi ajakan memilih.

Untuk memuluskan semua itu, GPIB perlu
membangun kerja sama dengan pemerintah, dengan lembaga agama lain, dan lembaga
gereja lain. Mendorong jemaat untuk aktif dalam berorganisasi di luar
organisasi gereja, mendukung dan mendoakan pemerintah, Ikut aktif memerangi hoax
dalam memasuki di IR 4.0 atau Revolusi Industri Era ke 4.

Dinamika yang
terjaring dalam diskusi tentang Gereja dan Politik, kata Pdt Stephen Sihombing,
mulai dari soal pendidikan politik tidak berjalan GPIB, alergi dengan politik,
tidak mendukung Warga Jemaat berpolitik. Hal lain menjadi sorotan dalam
Konferdal itu, GPIB perlu memahami agar politik tidak menjadi yang tabu.

Refleksi Teologisnya, kata Pdt
Stephen menunjuk teks firman Tuhan, dari Yer 29 : 7, kesejahteraan adalah Idiom
Politik. Untuk menyejahterakan harus bergaul aktif, selain aktif bergaul harus
tetap berdoa.

“Politik untuk kebaikan.
Kesejahteraan lingkungan akan berimabas pada kesejahteraan kita. Semua
bertujuan untuk kesejahteraan di mana kita tinggal. Orang merdeka yang
menggunakan kebebasan untuk kebaikan bersama,” tandas KMJ Bethesda Jakarta
Pusat mengutip   1 Petrus 2 : 16  “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan
seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi
kejahatan-kejahatan e mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.”

Tidak hanya itu, Konferdal juga
menyentuh permasalahan yang terjadi saat ini berkaitan dengan persoalan
penutupan GPIB Anugerah Bekasi dan GPIB Cawang Baru.

fsp/frans/arcus

Bagikan